Dari Davos ke Seoul: Kisah Buku Rasa yang Membawa Indonesia Lebih Dekat dengan Dunia


Awalnya mungkin hanya sebuah ide sederhana: mendokumentasikan menu bergizi dari berbagai daerah. Namun, ide itu kini telah menjelma menjadi misi diplomatik yang melintasi empat benua. Buku Rasa Bhayangkara Nusantara, yang merupakan wujud nyata dari program Makan Bergizi Gratis, terus bergerak. Setelah menjadi pusat perhatian di forum World Economic Forum di Davos dan memperkuat hubungan bilateral di Jepang serta Timur Tengah, buku ini kini hadir di Korea Selatan, menandai komitmen Indonesia untuk menjadikan gastrodiplomasi sebagai ujung tombak pendekatan baru dalam hubungan internasional.

Penyerahan buku ini kepada Duta Besar Cecep Herawan di Seoul menjadi momen penting karena Korea Selatan memiliki kedalaman pengalaman dalam implementasi program serupa. Dirgayuza, yang membawa langsung buku tersebut, mengungkapkan bahwa proses panjang yang ditempuh Korea Selatan—yang memakan waktu sekitar 20 tahun dengan sistem berbasis dapur sekolah—menjadi referensi berharga. Buku ini tidak hanya memperkenalkan kekayaan kuliner Nusantara, tetapi juga membuka mata bahwa kebijakan strategis seperti MBG dapat dijalankan dengan pendekatan yang bertahap dan terstruktur, sekaligus mengakar dalam budaya masyarakat.

Wakapolri Komjen Pol. Prof. Dr. Dedi Prasetyo menegaskan bahwa perjalanan buku ini adalah bagian dari strategi besar untuk memperkuat posisi Indonesia di mata dunia. Kolaborasinya dengan Dirgayuza menjadi bukti bahwa lintas sektor—dari kepolisian hingga pemerintahan—bisa bersinergi menghadirkan diplomasi yang inklusif. Buku ini, dengan 80 menu dari Sabang sampai Merauke, menjadi simbol bahwa keamanan dan kemanusiaan bisa berjalan beriringan. Dari Davos yang sarat dengan isu ekonomi global, hingga Seoul yang kaya akan pengalaman kebijakan publik, buku ini menjadi benang merah yang menghubungkan Indonesia dengan dunia melalui bahasa yang paling universal: rasa.(Avs)

Posting Komentar

0 Komentar