Sejak 2017, seorang pria berinisial GWL diam-diam meracik kode-kode digital yang kelak akan mencuri data ribuan orang di berbagai belahan dunia. Aktivitasnya baru terhenti ketika Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri berhasil melacak jaringan penjualan phishing tools yang menghubungkan tiga situs berbeda dengan akun Telegram otomatis.
Brigjen Himawan Bayu Aji mengungkapkan bahwa tersangka tidak hanya menjual, tetapi juga terus menyempurnakan perangkat lunaknya agar semakin sulit dideteksi. Melalui website wellstore.com yang diluncurkan pada 2018, lalu disusul dua situs lain pada 2020, GWL dan rekannya FYT melayani pembeli dari berbagai negara tanpa pernah bertatap muka.
Wakabareskrim Irjen Nunung Syaifuddin menambahkan bahwa metode pembayaran menggunakan aset kripto menyulitkan pelacakan awal. Namun, berkat teknik undercover buy yang cermat, penyidik berhasil memastikan bahwa script yang dijual memang difungsikan untuk akses ilegal dan pencurian data pribadi korban.
Nilai kerugian global yang ditaksir mencapai Rp350 miliar menjadi catatan hitam betapa masifnya dampak kejahatan ini. Polri berhasil menyita barang bukti dan aset senilai Rp4,5 miliar, serta berkomitmen untuk terus memperkuat patroli siber agar masyarakat terlindungi dari ancaman digital yang kian kompleks.(Avs)
.jpeg)
0 Komentar