Siapa bilang hanya petani dengan sawah luas yang bisa mendapat untung dari pangan? Di Desa Ngadipiro, Kecamatan Wilangan, Nganjuk, warga membalik logika itu. Jumat (29/5/2026), Bripka Yuli Priyanto (Bhabinkamtibmas) bersama Babinsa memantau lahan pekarangan belakang rumah warga yang disulap menjadi kebun sawi. Program ketahanan pangan nasional ini didukung penuh oleh Polri dan TNI. Hasilnya? Warga tidak hanya makan sayur gratis setiap hari, tetapi juga mulai mengantongi uang dari penjualan panen ke pasar desa. Dari lahan sempit, omzet kecil tapi konsisten mulai mengalir.
Mengapa sawi menjadi primadona? Tanaman ini memiliki siklus panen yang singkat, biasanya 30-40 hari setelah tanam. Selama itu, warga hanya perlu menyiram, memupuk dengan pupuk kandang, serta memastikan tidak ada hama ulat. Bripka Yuli dan Babinsa dalam kunjungannya selalu berdialog soal jadwal tanam bergilir, sehingga pekarangan tidak pernah kosong. Hasilnya, pasokan sawi tetap stabil, bahkan saat musim hujan sekalipun. Warga pun semakin percaya diri untuk memperluas area tanam.
AKBP Suria Miftah Irawan, Kapolres Nganjuk, menyebut sinergi Polri dan TNI ini sebagai contoh nyata kolaborasi lintas sektor. "Pemanfaatan lahan pekarangan adalah investasi kecil dengan keuntungan besar," tegasnya. Kapolsek Wilangan AKP Muh. Fatoni menambahkan bahwa pihaknya akan memfasilitasi pelatihan budidaya sawi organik. "Kami ingin hasil panen warga lebih bernilai jual," ujarnya. Dari Ngadipiro, kita mendapat inspirasi bahwa menanam sawi di belakang rumah bukan sekadar hobi. Dengan polisi dan Babinsa yang kompak mendampingi, kegiatan ini bisa menjadi mesin ekonomi keluarga yang nyata. (Avs)

0 Komentar