Blitar Raya ternyata tidak hanya menjadi tujuan wisata sejarah, tetapi juga pasar gelap narkoba yang cukup bergairah bagi bandar luar kota. Sepanjang Mei 2026, Polres Blitar Kota mengamankan 14 tersangka dari 12 kasus berbeda, dan fakta menarik terungkap dari asal-usul barang haram tersebut. Sabu-sabu didatangkan langsung dari Madiun dan Malang, sedangkan pil dobel L dipasok dari Kediri dan Tulungagung. Ini membuktikan bahwa Blitar telah menjadi simpul distribusi yang cukup strategis di Jawa Timur.
Para pengedar lokal yang ditangkap rata-rata adalah residivis yang sudah paham medan. Mereka tidak bekerja sendirian—barang lebih dari satu gram didatangkan, lalu dipecah menjadi paket kecil seberat setengah gram. Harga jualnya mencapai Rp500 ribu per paket, cukup untuk mengincar konsumen dari kalangan menengah ke bawah. Sementara untuk pil dobel L, pola yang digunakan adalah paket hemat dengan harga bervariasi agar lebih terjangkau. Kecamatan Sukorejo menjadi lokasi paling subur bagi transaksi semacam ini.
Tiga jenis narkoba yang disita polisi menunjukkan keragaman pasar gelap di Blitar: sabu, ganja, dan pil dobel L. Total barang bukti yang berhasil diamankan cukup mengagetkan, yaitu 45,8 gram sabu-sabu, 1.046 butir pil dobel L, serta 8,62 gram daun ganja. Dari jumlah tersebut, kasus AR dan FA di Udanawu menyumbang porsi terbesar sabu—23,11 gram. Sementara LH di Sananwetan menjadi satu-satunya tersangka yang berkutat dengan ganja.
Wilayah operasi pengungkapan ini tersebar di delapan kecamatan, menunjukkan bahwa narkoba sudah merata hingga pelosok. Selain Sukorejo, daerah seperti Nglegok, Ponggok, Udanawu, Sanankulon, Sananwetan, dan Kanigoro juga menjadi ladang peredaran. Polisi tidak hanya memburu pengedar besar, tetapi juga menyasar rantai-rantai kecil yang justru paling dekat dengan masyarakat. Ini strategi membasmi dari akar.
Dengan ancaman pidana minimal 12 tahun dan maksimal seumur hidup, 14 tersaksa kini harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Polres Blitar Kota menegaskan bahwa operasi serupa akan terus digencarkan, karena perang melawan narkoba tidak kenal istirahat. Masyarakat pun diharapkan ikut aktif melaporkan aktivitas mencurigakan di lingkungan masing-masing. Blitar yang aman dari narkoba bukan mimpi, tapi target yang sedang diwujudkan. (Avs)

0 Komentar