Strategi Baru Bhabinkamtibmas: Dari Balik Hijau Sawah, Ketahanan Pangan Dibangun Lewat Dialog


Nganjuk- Brigadir Putra tidak hanya mengenakan seragamnya di balik meja pos ronda, tetapi pagi itu ia memilih berjalan di antara hamparan hijau jagung dan padi yang baru mulai menguning. Senin, 24 Agustus 2026, ia meluangkan waktu untuk mengunjungi para petani di Desa Sanggrahan, bukan untuk pemeriksaan, melainkan untuk duduk dan berbincang di sela-sela aktivitas mencangkul dan menyiram. Momen ini menjadi gerbang awal bagi sinergi baru antara aparat keamanan dan penggerak ekonomi desa.


Perbincangan yang terjadi bukanlah sekadar basa-basi, melainkan sebuah jendela untuk melihat langsung denyut nadi pertanian yang sedang berdetak di kecamatan Prambon. Brigadir Putra dengan sabar mendengarkan cerita tentang tantangan pengairan yang kerap datang terlambat, hingga persoalan hama yang mulai mengancam daun-daun tanaman kacang tanah. Dari obrolan ringan itu, ia menggali informasi yang mungkin tidak pernah tertulis dalam laporan resmi, tetapi sangat vital bagi keberlangsungan panen.


Kehadiran polisi di tengah sawah ini membawa pesan bahwa keamanan tidak hanya tentang menangkal kejahatan, tetapi juga tentang memastikan rantai pangan tidak terputus. Brigadir Putra menjelaskan bahwa setiap keluhan petani akan ia bawa ke meja koordinasi, mulai dari dinas pertanian hingga pihak pengelola irigasi, agar solusi tidak hanya menjadi janji. Dengan pendekatan ini, ia berharap tidak ada lagi petani yang merasa sendirian saat menghadapi gagal panen atau kesulitan akses pupuk.


Arahan dari pucuk pimpinan Polres Nganjuk menjadi angin segar yang memperkuat gerakan ini, di mana Bhabinkamtibmas didorong untuk menjadi katalisator di sektor pangan. Kapolres menginginkan agar setiap desa memiliki garda terdepan yang tidak hanya jago menjaga situasi, tetapi juga jago membaca peluang pertanian di lahan sela. Inilah yang coba diwujudkan oleh Brigadir Putra, mengubah pendekatan keamanan menjadi pendekatan kemitraan yang produktif.


Seorang petani jagung yang tangannya masih berlumuran tanah menyatakan bahwa kedatangan Brigadir Putra seperti membuka ruang aspirasi yang selama ini terasa sempit. Ia merasa penting untuk menyampaikan secara gamblang harga pupuk yang fluktuatif dan cuaca yang sulit ditebak, karena selama ini keluhan hanya berputar di antara sesama petani. Hadirnya aparat yang mendengar langsung membuat mereka merasa dihargai dan diakui sebagai tulang punggung ekonomi nasional.


Tak hanya petani jagung, mereka yang menanam kacang tanah dan padi pun menganggukkan kepala sepakat bahwa pendampingan semacam ini jangan hanya menjadi kegiatan seremonial belaka. Mereka berharap agar komunikasi dengan Bhabinkamtibmas bisa menjadi saluran tetap, tempat mereka berbagi informasi tentang bibit unggul atau jadwal tanam yang lebih efisien. Semangat gotong royong ini dinilai mampu menjadi perekat yang lebih kuat dari sekadar laporan situasi keamanan.


Di akhir perbincangan, Brigadir Putra menekankan bahwa sawah adalah ladang kehidupan yang harus dijaga bersama, dan hubungan erat dengan petani adalah kunci utamanya. Ia berkomitmen untuk tidak hanya datang saat tanam, tetapi juga saat panen, sehingga setiap tahap pertanian selalu terawasi dengan baik. Dengan langkah kecil ini, ia yakin ketahanan pangan tidak akan menjadi mimpi, melainkan buah manis dari kerja keras kolektif di Desa Sanggrahan. (Avs)

Posting Komentar

0 Komentar