Di hadapan para pekerja keras itu, Kapolri kemudian mengupas satu per satu program pemerintah yang dirancang untuk memperkuat ekonomi kerakyatan. Ia mengambil contoh nyata kebijakan hilirisasi yang kini mulai menunjukkan hasil, tidak hanya dalam bentuk pendapatan negara, tetapi juga dalam penciptaan ekosistem industri baru. Ekosistem ini, lanjutnya, adalah ladang subur bagi lahirnya lapangan kerja baru yang lebih berkualitas. Pesannya sederhana namun dalam, buruh harus menjadi subjek utama dalam pembangunan, bukan sekadar objek yang menerima dampak.
Namun, untuk bisa duduk di kursi pengemudi pembangunan, Kapolri menyadari bahwa kualitas sumber daya manusia adalah prasyarat mutlak. Ia lantas membeberkan rencana konkret untuk membuka pintu pelatihan dan pendidikan di lingkungan Polri bagi para pekerja. Ini adalah tawaran menarik, bagaimana institusi yang identik dengan penegakan hukum justru ingin berkontribusi dalam menciptakan tenaga kerja profesional. Tujuannya jelas, agar tenaga kerja lokal kita mampu berdiri sejajar, bahkan lebih unggul, dari pekerja asing di negeri sendiri, khususnya ketika investasi asing mulai mengalir deras.
Di penghujung acara yang sarat makna ini, ada satu lagi kejutan dari Jenderal Sigit, yakni penawaran akses layanan kesehatan milik Polri untuk para buruh. Ini bukan basa-basi, melainkan sebuah simbol nyata bahwa Polri ingin hadir lebih dekat dan memberikan rasa aman secara menyeluruh, termasuk dari sisi kesehatan. Ia percaya, pekerja yang sehat adalah pekerja yang produktif. Dengan semua inisiatif ini, Kapolri mengajak semua yang hadir untuk mulai mempersiapkan diri dari sekarang, karena masa depan Indonesia Emas 2045 sedang menanti, dan kita semua adalah arsiteknya. (Avs)
.jpeg)
0 Komentar