Pendopo Agung Ngadisari, Sukapura, bergetar dengan wewangian kemenyan dan doa dari para tetua adat, Minggu (31/5/2026). Di malam puncak Yadnya Kasada, sebuah kejutan besar terjadi: AKBP M. Wahyudin Latif, Kapolres Probolinggo, bersama empat petinggi lainnya resmi dinobatkan sebagai Warga Kehormatan Suku Tengger. Pengukuhan ini menjadi magnet utama acara yang juga dihadiri Forkopimda, tokoh agama, dan ribuan warga Tengger yang datang dari berbagai desa di kawasan Bromo.
Apa makna gelar ini bagi seorang aparat? Menurut AKBP Latif yang mewakili para penerima penghormatan, ini adalah amanah untuk lebih dekat dengan warga. Ia menyebut bahwa dirinya kini merasa memiliki kewajiban moral untuk memastikan adat istiadat Tengger tidak tergerus zaman. Di hadapan para sesepuh, ia berjanji akan melindungi dan mendukung penuh kelestarian ritual tahunan yang sudah diwariskan turun-temurun dari leluhur itu.
Suasana makin hangat ketika Bupati Probolinggo, Mohammad Haris, berdiri menyampaikan pandangannya. Ia mengingatkan bahwa kebersamaan ini adalah aset berharga, apalagi Yadnya Kasada 2026 berlangsung selaras dengan suasana Idul Adha dan Waisak. Menurutnya, tradisi sakral seperti ini adalah perekat bangsa, dan peran aktif aparat sebagai bagian dari masyarakat adat akan memperkuat toleransi dari akar rumput.
Penutupan malam itu diwarnai dengan ikrar bersama untuk menjaga kawasan Bromo Tengger Semeru. AKBP Latif mengajak semua unsur, baik TNI, kejaksaan, maupun masyarakat biasa, untuk merawat warisan budaya ini sebagai kebanggaan kolektif. Gelar warga kehormatan bukanlah akhir, melainkan awal dari pengabdian yang lebih tulus tanpa sekat birokrasi.(Avs)

0 Komentar