Seorang petani di Dusun Tampang, Kecamatan Wilangan, dulu hanya bisa pasrah melihat lahan bahon Perhutani yang kosong di sela-sela pohon hutan. Kini, dengan sistem tumpang sari yang dipantau langsung oleh Aiptu Gunawan dari Polsek Wilangan pada Rabu (6/5/2026), lahan tersebut berubah menjadi sumber penghasilan tambahan yang menjanjikan. Tanaman jagung yang menjulang tinggi dipadu dengan komoditas pendek lainnya, menciptakan simfoni panen yang tidak pernah berhenti sepanjang tahun.
Apa rahasianya sehingga tumpang sari lebih menguntungkan dibanding monokultur? Kapolres Nganjuk AKBP Suria Miftah Irawan menyebut sistem ini sebagai cara paling efisien untuk memaksimalkan setiap jengkal tanah. Dengan satu kali olah lahan, petani bisa memanen jagung pada usia 3-4 bulan, sementara kacang-kacangan atau cabai di sela-selanya sudah bisa dipetik lebih awal. Pendapatan pun bertambah karena ada aliran uang masuk yang lebih sering, tidak hanya menunggu panen raya jagung yang memakan waktu lama.
Di lapangan, Aiptu Gunawan melakukan pengecekan intensif terhadap kondisi tanaman jagung. Ia juga berdiskusi dengan warga tentang kebutuhan pupuk organik dan jadwal pengairan yang tepat untuk lahan bahon yang cenderung lebih kering. Warga mengaku bahwa dengan pendampingan rutin, mereka kini paham kapan waktu terbaik menanam jenis tanaman pendukung agar tidak bersaing dengan pohon hutan di sekitarnya. Hasilnya, produktivitas lahan melonjak hingga dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya.
Kapolsek Wilangan AKP Muh. Fatoni menegaskan bahwa peran polisi di sektor pertanian adalah mendorong kesejahteraan rakyat. "Kami ingin anggota menjadi jembatan antara kebutuhan warga dan solusi di lapangan," ujarnya. Melalui tumpang sari di lahan bahon, ketahanan pangan keluarga terjamin dan dompet petani pun semakin tebal. Ini bukti bahwa di bawah naungan pohon hutan sekalipun, ladang rezeki bisa tumbuh subur dengan sistem yang tepat.(Avs)

0 Komentar