Siapa sangka, guncangan harga kebutuhan dapur bisa dihadapi dengan solusi serendah polybag. Di tengah desakan inflasi, warga binaan BRIPKA Mahendra Aris, S., Bhabinkamtibmas Desa Kedungombo, Polsek Warujayeng, justru menemukan cara baru untuk menekan pengeluaran rumah tangga. Pada Rabu (6/5/2026), ia memantau langsung program Pekarangan Pangan Bergizi (P2B) yang memanfaatkan polybag untuk menanam sayuran, membuktikan bahwa pangan bergizi bisa lahir dari halaman rumah sendiri.
Mengapa polybag menjadi primadona? Karena sistem ini memungkinkan siapa saja, termasuk ibu rumah tangga dan lansia, untuk berkebun tanpa perlu lahan luas atau tenaga ekstra. Kapolres Nganjuk AKBP Suria Miftah Irawan menyebut metode ini sebagai inovasi masyarakat yang sangat strategis. “Kami ingin setiap rumah punya sumber pangan sendiri,” tegasnya. Dengan polybag, perawatan tanaman jadi praktis: penyiraman mudah, hama lebih terkendali, dan panen bisa dilakukan kapan pun stok sayur di dapur mulai menipis.
Kelebihan lain yang langsung dirasakan warga adalah berkurangnya frekuensi belanja sayuran. Dari hasil monitoring BRIPKA Mahendra, beberapa jenis sayuran seperti bayam dan sawi sudah bisa dipanen dalam hitungan minggu. Hal ini secara langsung meningkatkan ketahanan pangan skala keluarga, karena kebutuhan gizi harian terpenuhi tanpa menguras dompet. Warga pun diberi motivasi agar rajin memupuk dan menyiram, demi hasil panen yang lebih melimpah di siklus tanam berikutnya.
Kompol H. Ahmad Junaedi, Kapolsek Warujayeng, menambahkan bahwa peran anggota kepolisian saat ini sudah bergeser dari sekadar penjaga keamanan menjadi agen pemberdayaan. Melalui pendampingan seperti ini, ia berharap semakin banyak keluarga yang sadar bahwa kemandirian pangan bisa dimulai dari hal kecil. Gerakan polybag bukan sekadar menanam sayur, melainkan menabung kesehatan dan keuangan keluarga setiap hari.(Avs)

0 Komentar