Air Sulit, Semangat Tak Padam: AIPTU Sarwadi Pastikan Jagung dan Padi Bajang Tetap Berdiri


Desa Bajang, Nganjuk, mungkin tidak memiliki sungai besar atau bendungan megah yang mengairi sawahnya. Yang ada hanyalah lahan tadah hujan yang setia menanti butiran air dari langit. Namun, keterbatasan itu tidak menyurutkan langkah AIPTU Sarwadi, Ka SPKT I Polsek Ngluyu, yang bertugas sebagai penggerak ketahanan pangan. Pada Minggu (7/6/2026), ia melaksanakan pemantauan tanaman jagung dan padi milik warga, memberikan perhatian khusus pada ketersediaan air yang menjadi nyawa bagi setiap petak lahan. Pendampingan ini adalah bentuk kepedulian bahwa petani di daerah kering sekalipun tidak boleh berjuang sendirian.

AKBP Suria Miftah Irawan, Kapolres Nganjuk, menekankan bahwa sektor pertanian di wilayah dengan keterbatasan sumber air membutuhkan perhatian dan koordinasi bersama. Tanaman jagung dan padi, menurutnya, memiliki ketahanan yang berbeda terhadap cekaman kekeringan, sehingga pendampingan teknis sangat diperlukan agar petani tahu persis kapan harus menanam dan kapan harus menghemat air. Melalui kehadiran AIPTU Sarwadi, para petani Desa Bajang mendapatkan pendampingan untuk mengidentifikasi kendala utama yang mereka hadapi, mulai dari sistem irigasi sederhana hingga teknik mulching yang dapat menjaga kelembapan tanah. Polri hadir bukan untuk menggurui, tetapi untuk berbagi solusi di tengah keterbatasan.

Ketika turun ke lapangan, AIPTU Sarwadi melakukan pengecekan menyeluruh terhadap kondisi tanaman, memerhatikan apakah daun jagung mulai mengering atau padi mulai menunjukkan tanda-tanda kekurangan air. Ia juga duduk bersama petani di bale-bale sawah, mendengarkan setiap keluhan tentang sulitnya memprediksi musim dan mahalnya biaya pompanisasi. AKP Sukamto, Kapolsek Ngluyu, menegaskan bahwa pihaknya akan terus mendukung keterlibatan anggota dalam mendampingi masyarakat di sektor pertanian. Harapannya, kehadiran polisi di lahan tadah hujan dapat memberikan motivasi kepada petani agar tetap semangat mengelola lahan meskipun tantangan air selalu menghadang.

Melalui kegiatan pemantauan ini, koordinasi antara petani dan berbagai pihak terkait diharapkan terus ditingkatkan. Desa Bajang mengajarkan bahwa ketahanan pangan bukan hanya tentang hasil panen yang melimpah, tetapi juga tentang ketahanan mental petani yang tidak patah semangat meskipun alam tak selalu bersahabat. Ketika AIPTU Sarwadi meninggalkan ladang dengan senyum tipis dan catatan tebal, ia tahu bahwa perjuangan belum selesai. Tapi setidaknya, para petani tidak lagi merasa sendirian. Dan dari itulah, perlawanan terhadap keterbatasan air dimulai, satu batang jagung, satu tangkai padi, dan satu langkah polisi yang mendampingi dengan sepenuh hati.(Avs)

Posting Komentar

0 Komentar