Ladang jagung di Desa Kepel, Kecamatan Ngetos, tidak hanya subur karena air dan sinar matahari, tetapi juga karena perhatian penuh dari Aipda Gesang, Bhabinkamtibmas yang juga berperan sebagai penggerak ketahanan pangan. Pada Minggu pagi itu, ia tidak hanya berdiri di pinggir lahan, melainkan masuk ke sela-sela tanaman, mengecek kondisi daun dan batang jagung milik warga binaannya. Kegiatan pemantauan ini adalah bentuk pendampingan agar proses pertanian berjalan maksimal, sehingga hasil panen tidak hanya memenuhi kebutuhan pangan keluarga tetapi juga menggerakkan perekonomian desa. Inilah polisi yang memilih sawah sebagai medan baktinya.
AKBP Suria Miftah Irawan, Kapolres Nganjuk, dengan tegas menyatakan bahwa Polri melalui para Bhabinkamtibmas harus terus hadir memberikan motivasi agar sektor pertanian tetap produktif. Komoditas jagung, menurutnya, memegang peran strategis karena selain sebagai bahan pangan pokok di banyak daerah, juga memiliki nilai ekonomi yang sangat kompetitif. Dengan pendampingan seperti yang dilakukan Aipda Gesang, petani bisa lebih percaya diri dalam mengelola lahannya, mengetahui kapan waktu yang tepat untuk menanam, memberi pupuk, dan mengatasi serangan hama. Kehadiran polisi di ladang telah mengubah paradigma lama tentang tugas aparat keamanan.
Saat berdialog dengan warga, Aipda Gesang tidak hanya mendengar keluhan tentang mahalnya pupuk atau sulitnya air di musim kemarau, tetapi juga mencatat solusi-solusi sederhana yang bisa dijangkau oleh petani skala kecil. IPTU Jajuli, Kapolsek Ngetos, menegaskan bahwa pendampingan seperti ini akan terus didukung penuh karena dapat membantu petani menjaga produktivitas lahan. Harapannya, hasil panen jagung di Desa Kepel tidak hanya maksimal dalam jumlah, tetapi juga berkualitas sehingga harga jualnya lebih baik. Dari ladang inilah ketahanan pangan nasional dibangun, satu batang jagung pada satu waktu.
Melalui sinergi yang terus dipupuk antara Bhabinkamtibmas dan petani, program ketahanan pangan nasional diyakini akan semakin kokoh. Tidak ada lagi jarak antara aparat dan masyarakat ketika mereka sudah sama-sama berkeringat di areal persawahan. Desa Kepel menjadi contoh bahwa pertanian bukan hanya urusan penyuluh atau dinas terkait, tetapi juga urusan kepolisian yang peduli. Dengan langkah-langkah kecil namun konsisten seperti pemantauan rutin oleh Aipda Gesang, masa depan jagung Nganjuk tampak lebih cerah. Dan pada akhirnya, swasembada pangan bukanlah mimpi di siang bolong, melainkan realita yang dijemput dari ladang bersama.(Avs)

0 Komentar