Fernando Emas menolak membaca lonjakan kepercayaan sebagai prestasi instan. Baginya, data dari Kompas itu adalah bundel pengalaman warga, mulai dari ibu-ibu yang melapor kehilangan motor hingga sopir angkot yang diatur tanpa preman. Ia justru menyoroti bagaimana pelayanan di tingkat kecamatan dan kelurahan membentuk persepsi jauh lebih kuat daripada pengumuman nasional.
Di sela pernyataannya, Fernando juga mengingatkan bahwa perbaikan citra dari 64,4 persen ke 71,5 persen harus dibaca dengan kepala dingin. Ia mengatakan itu adalah cerminan dari kerja kolektif, bukan hadiah untuk satu pimpinan saja. Namun, ia secara halus menyindir bahwa publik tidak pernah bodoh; mereka bisa membedakan mana yang kosmetik dan mana yang substansi. Karena itu, ia meminta agar Polri terus memperbanyak dialog langsung.
Menurut pengamat ini, amanah dari angka 82,4 persen adalah untuk terus bergerak, bukan berdiri berdecak kagum. Ia menekankan bahwa keamanan adalah urusan dua arah, sehingga Polri dan masyarakat ibarat penari yang harus saling mengikuti irama. Jika salah satu tersandung, jatuhlah seluruh tarian. Maka, ia menyambut baik masukan publik sebagai vitamin, sekaligus mengingatkan bahwa tidak ada institusi sempurna di dunia ini.
Saat ia memberi apresiasi, bukan berarti ia buta terhadap aduan yang masih masuk melalui jalur informal. Pada akhir pernyataannya, Fernando menyebut bahwa kritik dan apresiasi adalah saudara kembar yang tidak bisa dipisahkan. Baginya, yang terpenting adalah arah perubahan terlihat jelas, dan survei kali ini adalah salah satu penunjuk arah itu. Tapi ia mengakhiri dengan nada hati-hati: kepercayaan itu seperti pasir di genggaman—terlalu erat malah tumpah. (Avs)

0 Komentar