CAT Olimpiade dan Pengawasan Independen, Ini Cara Polri Jaring 350 Perwira Masa Depan


Semarang- Angka 350 bukan sekadar statistik, melainkan hasil dari proses seleksi paling ketat dan transparan dalam sejarah penerimaan Akademi Kepolisian. SSDM Polri menetapkan 320 taruna dan 30 taruni yang berhak mengikuti pendidikan di Akpol setelah melalui serangkaian ujian dengan sistem Computer Assisted Test berstandar olimpiade, yang mengukur kemampuan berpikir kritis, analitis, dan pemecahan masalah secara mendalam. Sidang penetapan kelulusan yang berlangsung di Auditorium Cendekia Akpol pada Senin (27/7) menjadi puncak dari perjalanan panjang 404 peserta seleksi tingkat pusat yang harus bersaing ketat untuk memperebutkan kursi bergengsi di lembaga pendidikan calon perwira Polri.


Irjen Pol. Dr. Anwar, Asisten Kapolri Bidang SDM, menyebut bahwa kualitas peserta tahun ini mengalami peningkatan signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Inovasi terbesar adalah penggunaan soal Tes Potensi Akademik setara olimpiade yang memaksa peserta untuk tidak sekadar menghafal, tetapi benar-benar memahami konsep dan berpikir tingkat tinggi. Dengan bobot penilaian yang seimbang antara akademik, fisik, dan penampilan, Polri memastikan bahwa yang terpilih adalah pribadi-pribadi unggul secara holistik. Nilai tertinggi TPA 80 dan Bahasa Inggris 82 yang diraih oleh delapan peserta menjadi bukti bahwa persaingan antar calon taruna sangat sengit.


Transparansi menjadi kata kunci yang membedakan seleksi tahun ini. Nilai ujian langsung muncul di layar komputer setiap peserta setelah tes berakhir, menghilangkan ruang spekulasi dan kecurigaan. Seluruh hasil kemudian dicetak dalam satu dokumen besar dan ditandatangani bersama oleh semua peserta, sehingga tidak ada yang bisa menyangkal keabsahan angka-angka tersebut. Ghyna Islamiati Ramly, seorang calon taruni asal Sulawesi Tengah, mengaku proses ini membuatnya merasa diperlakukan adil tanpa memandang asal daerah atau status sosial. Keterlibatan pengawas eksternal dari Ombudsman, Setara Institute, Amnesty International, dan KPRP semakin mengokohkan kredibilitas seleksi di mata publik.


Wakapolri Komjen Pol. Prof. Dr. Dedi Prasetyo memberikan pembekalan khusus kepada para calon taruna, mengingatkan bahwa mereka adalah generasi yang akan memimpin Polri di masa depan. Ia menekankan pentingnya karakter, integritas, dan kepedulian sosial di samping kecerdasan intelektual, karena tantangan keamanan ke depan tidak hanya bersifat konvensional tetapi juga digital dan multidimensi. Dengan sistem rekrutmen yang semakin modern, meritokratis, dan diawasi berbagai pihak, Polri menunjukkan komitmen serius dalam membangun sumber daya manusia unggul yang siap menghadapi dinamika zaman dan menjadi pelindung masyarakat yang dipercaya. (Avs)

Posting Komentar

0 Komentar