Drone, CCTV, dan Water Bombing, Polri Manfaatkan Teknologi Canggih Deteksi dan Padamkan Karhutla 2026


Jakarta- Di tengah ancaman karhutla yang semakin masif akibat El Nino dan musim kemarau ekstrem, Polri tidak hanya mengandalkan kekuatan personel tetapi juga mengoptimalkan pemanfaatan teknologi canggih seperti drone produksi dalam negeri, kamera pengawas (CCTV) di pos pemantauan, serta command center yang terhubung dengan sistem Kementerian Kehutanan, BNPB, dan Basarnas untuk mendeteksi dan memetakan titik api secara cepat dan akurat, sebagaimana dipaparkan dalam Rapat Koordinasi Pencegahan dan Penanganan Karhutla yang dipimpin Wakapolri Komjen Pol. Prof. Dr. Dedi Prasetyo di Mabes Polri pada Kamis (30/7). Wakapolri menekankan bahwa penguatan teknologi adalah kunci untuk mempercepat respons dan meminimalkan dampak kebakaran, karena setiap menit yang terbuang dapat berarti hilangnya ratusan hektar lahan yang sulit dipulihkan.


Kadiv Humas Polri Irjen Pol. Johnny Eddizon Isir menjelaskan bahwa Polri mengoperasikan command center di Riau, Jambi, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Selatan yang telah terintegrasi dengan sistem pemantauan nasional, serta memanfaatkan drone untuk pemetaan wilayah rawan kebakaran dan CCTV untuk pengawasan titik panas secara real time. Selain itu, dari seluruh armada udara Polri, terdapat empat helikopter yang memiliki kemampuan water bombing yang akan dioptimalkan untuk mendukung pemadaman di wilayah prioritas dengan tingkat kerawanan tinggi, sementara patroli darat dan perairan yang telah dilakukan sebanyak 168.500 kali bersama berbagai unsur terus diperkuat untuk mendeteksi dini potensi kebakaran sebelum api membesar.


Wakapolri juga memerintahkan pendataan ulang sumber air seperti embung, waduk, kanal, dan sumur bor untuk memastikan ketersediaan air saat terjadi kebakaran, serta menyiapkan anggaran yang dapat diajukan melalui kapolda dan kapolres untuk pemenuhan kebutuhan operasional. Dengan luas lahan terdampak 107.465 hektare dan lima wilayah dengan titik panas tertinggi, Polri berkomitmen untuk terus memperkuat langkah mitigasi melalui prinsip 5M (man, money, method, material, machine) serta memastikan keselamatan personel dengan perlengkapan standar yang memadai, karena teknologi tanpa personel yang terlindungi tidak akan mampu memberikan hasil optimal dalam menghadapi bencana karhutla yang semakin kompleks.(Avs)

Posting Komentar

0 Komentar