Ketika Jagung Membutuhkan Sentuhan dan Air yang Berkeadilan


Nganjuk- Di Desa Tembarak, suara gemericik air menjadi melodi paling dinanti oleh para petani jagung yang kini tengah berjuang melawan musim kemarau yang semakin membandel. Aipda Sony, Bhabinkamtibmas setempat, hadir di tengah-tengah mereka dengan misi mulia: memastikan ketersediaan air tetap terjaga dan tanaman jagung mendapatkan perawatan yang layak. Langkah ini merupakan realisasi dari arahan Kapolres Nganjuk yang menekankan pentingnya pendampingan sektor pertanian sebagai pilar utama ketahanan pangan nasional, terutama di wilayah-wilayah yang rawan kekeringan seperti Kertosono.


Nganjuk- Dalam perjalanannya menyusuri areal persawahan jagung, Aipda Sony menyempatkan diri untuk duduk bersama para petani di gubuk kecil pinggir ladang, mendengarkan cerita mereka tentang perjuangan mengairi lahan di tengah debit sungai yang terus menyusut. Ia memberikan masukan praktis tentang teknik mulsa dan penanaman tanaman penutup tanah untuk mengurangi penguapan air, sekaligus mengajak mereka membuat saluran irigasi darurat dari pipa-pipa bambu yang tersedia di sekitar desa. Inovasi sederhana ini diharapkan dapat membantu mempertahankan kelembapan tanah lebih lama.


Nganjuk- Kapolsek Kertosono Kompol Joni Suprapto mengungkapkan bahwa pihaknya akan terus memperkuat peran Bhabinkamtibmas sebagai ujung tombak pendampingan pertanian di tingkat desa. Ia juga berencana mengkoordinasikan dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Sumber Daya Air untuk melakukan normalisasi saluran irigasi utama yang menghubungkan Desa Tembarak dengan daerah-daerah sekitarnya. Dengan adanya aliran air yang lancar, produktivitas jagung diharapkan dapat meningkat dan petani tidak lagi bergantung sepenuhnya pada hujan.


Nganjuk- Sebelum pamit, Aipda Sony mengingatkan para petani untuk tetap menjaga kebersihan saluran air dan menghindari penggunaan pupuk kimia berlebihan yang dapat mencemari sumber mata air. Ia juga menyampaikan bahwa Polri akan selalu hadir untuk mendampingi setiap langkah mereka, dari masa tanam hingga panen tiba. Desa Tembarak perlahan mulai bernapas lega, karena di tengah keterbatasan air, ada tangan-tangan yang bersedia membantu dan hati yang peduli pada nasib ladang jagung mereka.(Avs)

Posting Komentar

0 Komentar