Sukomoro-Nganjuk- Terik matahari seolah tak mengenal ampun, tetapi Aipda Heru P. tetap teguh melangkah memasuki lahan pertanian cabai di Desa Bungur, membawa misi yang lebih besar dari sekadar pemantauan rutin. Dengan latar belakang kepedulian terhadap ketahanan pangan, ia hadir untuk memastikan bahwa petani tidak sendirian menghadapi musim kemarau yang kian panjang dan mengancam. Langkahnya menyusuri bedengan cabai yang mulai mengering, dan di setiap sudut lahan ia menemukan cerita tentang perjuangan melawan keterbatasan air yang menjadi urat nadi pertanian.
Seorang petani dengan wajah lelah namun mata berbinar menyambut kedatangan Aipda Heru, lalu dengan jujur menceritakan bahwa curah hujan yang hampir tidak ada selama beberapa bulan terakhir membuat sumber air mereka menyusut signifikan. Ia mengaku bahwa dirinya dan petani lain sudah mulai panik, karena tanaman cabai yang seharusnya berbuah lebat kini terancam gagal panen. Aipda Heru menepuk pundak petani itu, menguatkan semangat bahwa setiap masalah pasti ada jalan keluar, dan ia berkomitmen untuk menjadi bagian dari solusi.
Bukan sekadar memberi semangat kosong, Aipda Heru langsung memaparkan sebuah konsep yang mungkin terdengar asing bagi petani setempat: irigasi tetes yang mampu mengalirkan air tepat ke akar tanaman dengan volume yang sangat minim. Ia menjelaskan dengan bahasa sederhana bahwa metode ini ibarat memberi minum tanaman setetes demi setetes, tidak seperti penyiraman konvensional yang banyak airnya terbuang sia-sia. Petani yang mendengarkan perlahan mengangguk, mulai membayangkan bagaimana teknologi sederhana ini bisa menyelamatkan hasil panen mereka di tengah kemarau yang melanda.
Dengan janji untuk segera menghubungkan petani dengan dinas terkait dan sumber daya pendukung, Aipda Heru meninggalkan lahan itu dengan keyakinan bahwa perubahan positif sedang di ambang pintu. Ia percaya bahwa ketahanan pangan tidak hanya dibangun oleh hujan, tetapi juga oleh inovasi dan kolaborasi antara petani, pemerintah, dan kepolisian. Dari lahan cabai di Sukomoro ini, ia berharap akan lahir gerakan pertanian hemat air yang bisa menjadi contoh bagi daerah lain di Nganjuk. (Avs)
.jpeg)
0 Komentar