Nganjuk- Di tengah deru teknologi yang kian tak terbendung, SMAN 3 Nganjuk menjelma menjadi ruang laboratorium masa depan ketika Tim Trainer ToT Paham AI menyambangi sekolah tersebut untuk memperkenalkan Senopati Academy kepada 80 siswa yang duduk dengan mata berbinar penuh rasa ingin tahu. Sabtu (29/8) menjadi saksi bagaimana generasi muda di kota kecil ini mulai diajak melompat ke dalam pusaran kecerdasan buatan, bukan sebagai penonton pasif tetapi sebagai aktor yang paham betul apa yang sedang mereka hadapi. Bagi Tim Trainer, memperkenalkan AI sejak dini bukanlah pilihan, melainkan keharusan agar pelajar Indonesia tidak terseret arus tanpa kemampuan berenang.
Senopati Academy, platform yang diperkenalkan dalam kegiatan tersebut, bukan sekadar aplikasi biasa karena ia lahir dari riset mendalam Senopati Strategic Institute tentang bagaimana literasi AI seharusnya diajarkan kepada generasi muda di tanah air. Kurikulum yang disusun dirancang untuk menjawab satu pertanyaan fundamental, yaitu bagaimana pelajar Indonesia bisa memahami AI sebelum mereka terlambat dan hanya menjadi konsumen buta dari produk-produk teknologi asing. Tim Trainer dengan sabar menjelaskan bahwa memahami AI berarti mengetahui cara kerjanya, mengenali manfaatnya, dan yang terpenting menyadari risikonya agar teknologi tidak berbalik menjadi bumerang yang merugikan.
Suasana di ruang kelas terasa begitu hidup ketika para siswa mulai diajak berinteraksi langsung dengan platform Senopati Academy, mencoba fitur-fitur yang ada sambil bertanya tentang berbagai hal yang selama ini mereka temui dalam penggunaan AI sehari-hari. Salah seorang siswa mengaku bahwa selama ini ia menggunakan AI hanya untuk mengerjakan tugas dan mencari jawaban instan, tetapi melalui kegiatan ini ia menyadari bahwa kecerdasan buatan harus digunakan dengan bijak dan tidak sekadar dituruti begitu saja. Pengakuan jujur ini menjadi pintu bagi Tim Trainer untuk menekankan pentingnya berpikir kritis dalam setiap interaksi dengan teknologi yang semakin canggih namun juga semakin kompleks.
Pendekatan yang digunakan dalam pelatihan ini berbeda dari sekadar ceramah, karena Tim Trainer memilih metode interaktif yang membuat para siswa tidak hanya mendengar tetapi juga mempraktikkan dan bertanya secara langsung. Mereka diajak untuk mengidentifikasi berbagai bias yang mungkin muncul dalam algoritma AI, memahami bagaimana data pribadi bisa disalahgunakan, dan belajar tentang etika dalam mengembangkan serta menggunakan teknologi berbasis kecerdasan buatan. Pengalaman ini membuka mata para siswa bahwa AI bukanlah kalkulator super yang selalu benar, melainkan alat yang dibangun oleh manusia dan karenanya memiliki keterbatasan serta potensi kesalahan yang harus diwaspadai.
Kepala sekolah dan para guru yang turut mendampingi kegiatan menyampaikan apresiasinya karena edukasi seperti ini sangat jarang didapatkan oleh pelajar di daerah, apalagi dengan pendekatan yang menyeluruh seperti yang dibawa oleh Tim Trainer ToT Paham AI. Mereka berharap Senopati Academy tidak hanya hadir sekali lalu menghilang, tetapi bisa menjadi program berkelanjutan yang terintegrasi dengan kurikulum sekolah untuk mempersiapkan generasi yang melek teknologi sejak dini. Dukungan dari pihak sekolah ini menjadi modal besar untuk memastikan bahwa literasi AI tidak berhenti di ruang kelas, tetapi terus mengalir ke setiap aspek kehidupan siswa di luar jam pelajaran.
Di akhir sesi yang berlangsung penuh antusiasme, Tim Trainer mengajak para siswa untuk tidak berhenti belajar dan mengeksplorasi teknologi secara positif, tetapi selalu diiringi dengan kesadaran akan etika dan keamanan digital. Mereka menekankan bahwa menjadi pengguna AI yang cerdas berarti mampu memilah informasi, mempertanyakan hasil yang diberikan, dan menggunakan teknologi untuk menciptakan solusi, bukan sekadar mengonsumsi konten yang sudah jadi. Melalui Senopati Academy, SMAN 3 Nganjuk telah melangkah lebih awal dalam perjalanan panjang menuju generasi emas yang tidak hanya mahir menggunakan AI, tetapi juga bijak dalam menyikapi setiap perubahan yang dibawa oleh revolusi industri keempat. (Avs)
.jpeg)
0 Komentar