Satu dekade terakhir, akses terhadap informasi di internet memang semakin mudah, tetapi kemudahan ini ternyata juga membawa dampak negatif bagi kalangan anak-anak. Polres Tulungagung menemukan fakta mengejutkan dalam operasi cipta kondisi selama Ramadan 1447 H: sebagian besar pelaku pembuat petasan adalah anak-anak usia 10 hingga 15 tahun yang belajar merakit bahan peledak dari internet dan membeli bahannya secara online. Pada Selasa (24/3/2026), Tim Jibom Gegana Brimob Polda Jawa Timur memusnahkan 346 petasan dan 22,15 kilogram bahan bubuk peledak hasil penyitaan selama operasi berlangsung.
Kabag Ops Polres Tulungagung, Kompol Maga, menjelaskan bahwa pemusnahan ini adalah puncak dari upaya preventif yang dilakukan selama 30 hari bersama jajaran Polsek. Tujuannya tidak hanya sekadar menekan angka peredaran petasan ilegal, tetapi juga menyelamatkan masyarakat, terutama anak-anak, dari risiko cedera serius bahkan kematian akibat ledakan. Dari hasil pengungkapan, ditemukan petasan berukuran besar dan bahan peledak dalam tahap pembuatan yang jika sempat diaktifkan, dampaknya bisa sangat fatal.
Menghadapi kenyataan bahwa pelaku didominasi oleh anak-anak, Polres Tulungagung mengambil langkah bijak. Mereka tidak langsung memproses secara hukum, tetapi melakukan pembinaan dan mengembalikan anak-anak tersebut kepada orang tua. Langkah ini dibarengi dengan ajakan kepada keluarga untuk meningkatkan pengawasan, terutama terhadap aktivitas daring anak-anak. Sementara untuk pelaku dewasa yang terlibat, proses hukum tetap dijalankan tegas sebagai efek jera.
Kompol Maga bersyukur bahwa hingga saat ini wilayah Tulungagung nihil korban jiwa maupun kerugian materiil akibat petasan. Ini adalah hasil dari langkah preventif dan patroli intensif yang tidak kenal lelah dilakukan jajaran kepolisian. Dengan pemusnahan ini, Polres Tulungagung berharap masyarakat semakin paham bahwa bahaya petasan tidak hanya pada saat diledakkan, tetapi sudah dimulai dari proses pembuatan yang melibatkan bahan-bahan kimia berbahaya. Kesadaran kolektif dan pengawasan orang tua menjadi benteng terakhir yang tidak kalah penting dari operasi kepolisian itu sendiri.(Avs)

0 Komentar