Rocky Gerung Memanggil Bumi dalam Diskusi Bivak di Tengah Hutan Kampar


Di tengah hutan lindung yang udaranya masih segar, sekitar 150 aktivis mahasiswa duduk melingkar mendengarkan seorang filsuf yang jarang datang ke tenda darurat. Rocky Gerung hadir di Rimbang Baling bukan untuk berdebat soal politik praktis, melainkan untuk mengingatkan bahwa bumi bukanlah properti yang bisa diperjualbelikan. Baginya, kebakaran hutan adalah gejala dari cara pandang kolonial yang masih membelenggu hukum tata ruang Indonesia.

Pendiri Tumbuh Institute, Azairus Adlu, membuka acara dengan nada reflektif. Ia mengatakan bahwa selama ini masyarakat diajarkan untuk takut pada asap, tetapi tidak pernah diajak berani melawan akar masalahnya. Dialog dua hari itu sengaja disusun dalam format camping kebangsaan agar partisipan bisa merasakan langsung suhu dingin malam yang seharusnya tidak tergantikan oleh kepulan panas dari lahan gambut yang terbakar.

Kapolda Riau yang ikut bermalam di tenda terpisah justru mendapat kejutan. Dalam forum tertutup, ia diminta menjamin hukuman maksimal bagi pembakar lahan, bahkan jika pelakunya memiliki koneksi kuat. Tak hanya itu, ia berkomitmen memecat anggotanya sendiri yang terlibat jaringan narkoba. Sikap tegas ini diapresiasi oleh Hurriah, pegiat HAM yang memandang karhutla sebagai pelanggaran hak asasi atas udara bersih.

Para mahasiswa yang hadir kemudian dibagi ke dalam kelompok-kelompok diskusi teknis. Ada yang belajar soal peta rawan kebakaran dari Manggala Agni, ada pula yang mengupas modus peredaran sabu-sabu dari Direktorat Narkoba Polda Riau. Mereka pulang bukan hanya dengan foto selfie di hutan, melainkan dengan rencana aksi nyata untuk menjadi buffer intelektual melawan krisis ekologis yang makin tidak terbendung.(Avs)

Posting Komentar

0 Komentar